Boltim

Puluhan Tahun Dermaga Kelas III Kotabunan Tak Beroperasi

MONGONDOW.CO, Boltim – Puluhan tahun Dermaga Kelas III Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) tak difungsikan, Senin (10/6/19).

Kondisi dermaga ini, tidak layak dioperasikan, karena beton rusak dan posisinya sudah dangkal.

Pantauan media ini, tidak tanpa perahu nelayan yang bersandar di dermaga tersebut. Bolder atau tempat ikat tali di dermaga besinya tak kuat menahan kapal. Tiang dermaga berdiri bukan di air, namun sudah di pesisir pantai, karena dangkal.

“Kami sudah tidak berlabu atau parkir di dermaga, karena air dangkal,” ujar Juma Mokoagow, nelayan Kotabunan.

Kata dia, kondisi pelabuhan Kotabunan, sangat memperhatinkan, sebab puluhan tahun, belum direnovasi. Pada hal adanya dermaga ini, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pelabuhan ini, dibangun sekitar tahun 1983. Jadi sudah 36 tahun. Namun hingga kini, tidak ada upaya untuk diperbaiki oleh Pemerintah Daerah maupun Pusat.

Padahal dengan adanya pelabuhan aktivitas bongkar muat baik barang maupun ikan berjalan lanjar dan aman.

Security di Pelabuhan Kotabunan, John Andaria mengatakan, sudah sejak 25 tahun bekerja di sini, namun belum ada perahu atau kapal berlabuh lama di dermaga ini.

“Sudah tidak layak. Karena dermaga ini tak memenuhi standar untuk pelabuhan,” ujar John Andaria.

Kondisi dermaga sekarang sekitar 10 sampai 20 persen. Waktu lalu sudah dicek langsung dari Manado, terhadap kekuatan bangunan apakah masih layak atau tidak.

“Saya sudah melarang perahu atau kapal untuk bersandar, walaupun sebentar. Karena kondisinya rawan roboh,” ujar dia lagi.

Di tambah lagi, posisi dermaga sudah berada di darat, sehingga dangkal. Apabila bakal dibangun sebaiknya dimajukan sampai laut.

Anggota DPRD Boltim, Tomy Sumendap mengatakan, dua minggu lalu sudah berkoordinasi ke Jakarta dengan Kementrian Kelautan, tentang pembangunan pelabuhan Kotabunan.

Waktu lalu, pelabuhan ini dialihkan ke dermaga pariwisata, namun terkendala RT/RW. Tapi tahun 2020 ada dana pembangunan dermaga, tapi di bagian darat sebesar Rp 3 miliar lebih.

Sedangkan untuk dermaga bagian laut, masih menunggu kajian lingkungan. Apakah pembangunanya mengangu ekosistem laut atau tidak. Jika sudah ada. Maka dianggarkan Rp 27 miliar rupiah. (Chindi).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terbaru

To Top