Bolmong

Isu Politik Identitas, Chairun: Tak Ada Keharusan Orang Mongondow Pilih Mongondow

MONGONDOW.CO,Bolmong – Didalam perpolitikan di Indonesia secara umum, jika kalah dalam ide dan gagasan. Maka politik identitas digoreng dan dimainkan oleh elit politik, baik pada pemilihan Presiden maupun kepala daerah. Hal ini dibuktikan dengan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Sulawesi Utara (Sulut), demi meningkatkan elektabilitas calon. Isu tentang politik identitas mulai muncul ditengah masyarakat.

Tak hanya itu, jadi sasaran tembak para pendukung di media sosial menjadi senjata ampuh untuk menyuarakan politik identitas.

Peneliti sejarah, budaya dan adat Mongondow Chairun Mokoginta, pun angkat bicara mengenai politik identitas

Menurut Chairun, terdapat empat kriteria pemimpin dalam kebudayaan Mongondow.

Mantan anggota DPRD Bolmong tersebut, mengaku tak ada keharusan orang Mongondow pilih Mongondow.

“Saya Selama meneliti tidak ada ditemukan atau menemukan referensi orang Mongondow harus pilih Mongondow. Jika ada yang berikan referensi perlu dipertanyakan dari mana itu berasal,” katanya, Rabu (07/10).

Ia mengatakan, empat kriteria tersebut. Pertama, kata dia, Moko Dotol atau patriotisme.

“Pemimpin harus mampu menjaga wilayah, memberi rasa aman dan nyaman kepada rakyat,” kata Chairun.

Kedua adalah Moko Rakup atau mengayomi seluruh anggota masyarakat. Ini berkaitan demgan masalah ekonomi.

“Selanjutnya adalah Mokodia atau amanah.

Artinya pemimpin harus konsisten,” ujar Chairun.

Terakhir Moko Anga yang berarti baik dari sikap dan perilaku.

Moko Anga dahulunya jadi kriteria pengkaderan Bogani.

Untuk itu, empat kriteria itu sejalan dengan tiga karakter orang Mongondow.

Ketiga karakter itu mencerminkan sikap orang Mongondow yang demokratis.

“Mo’o ulean atau bila terjadi gesekan dan benturan sesama, maka diselesaikan secara damai. Kedua, Mo’o Aheran atau saling menghargai. Jadi orang Mongondow itu saling menghargai. Siapa pun yang datang ke Mongondow harus di terima. Ketiga, Mobo Bangkalan atau saling menghormati,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, budaya Mongondow sangat demokratis dalam memilih pemimpin. Budaya sejak ribuan tahun itu selaras dengan konsep Pancasila dan NKRI.

“Saya sebagai peneliti kebudayaan memang belum mendapatkan sebuah patokan atau prinsip kita harus memilih si ini atau si itu,” akunya. (Yono).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular

To Top