Boltim

Marlon Angkat Bicara Terkait Tudingan Penggunaan B3 dan Limbah B3 di KUD Nomontang

MONGONDOW.CO, Boltim – Ketua KUD Nomontang Marlon angkat bicara terkait tudingan dibeberapa media online mengenai pengunaan B3 dan menghasilkan Limbah B3 yang merupakan sisa usaha kegiatan pengolahan hasil produksi tambang emas yang mengandung Limbah B3 yang dilakukan oleh anggota KUD Nomontang berlokasi di Desa Lanud, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Saat bersua disalah satu rumah makan yang ada di Desa Tutuyan senin (15/2/2021) mengatakan bahwa seluruh anggota KUD tidak menggunakan merkuri yang masuk dalam kategori B3, dan seluruh anggota hanya menggunakan Sianida (CN) yang tergolong B2.

“Limbah B3 yang ada di lokasi KUD tersebut hanyalah oli bekas yang dihasilkan dari kendaraan roda enam (dump truk) dan alat berat, dan limbah oli bekas ini hanya sifatnya sedikit, karena tidak setiap hari kendaraan tersebut mengganti oli mesin, tapi sifatnya hanya berkala yaitu tergantung dari jarak tempuh pemakaian setiap kendaraan”.

“Dan untuk limbah CN itu diolah lagi (tidak dibuang) karena masih ada sisa kandungan emas walaupun hanya sedikit,” lanjutnya.

Dikatakannya lebih lanjut, penggunaan B3 (merkuri/air raksa) atau lebih dikenal masyarakat disini air perak, untuk seluruh anggota KUD itu tidak ada, karena sistem pengelolaan bebatuan yang mengandung emas hanya menggunakan CN dan kapur, karena di lokasi ini sistem pengelolaan emas itu hanya dua cara yaitu menggunakan bak dan tong.

“Sekali lagi saya tegaskan bahwa seluruh anggota KUD tidak menggunakan B3 seperti mercuri, dan untuk sistem pengelolaan limbah yang dihasilkan dari sisa pengelolaan/produksi itu juga dipantau oleh kami selain Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan apabila ditemukan salah satu anggota kami dalam pengelolaan limbah tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku maka itu ada sanksi berupa pencabutan ijin keanggotaan maupun sanksi berat lainya,” tandasnya.

Sementara itu Kepala DLH Kabupaten Boltim Sjukri Tawil saat dikonfirmasi melalui selulernya (18/2/2021) terkait persoalan di atas mengatakan bahwa di lokasi KUD Nomontang memang tidak ditemukan penggunaan B3 berupa Merkuri, yang ada hanya B3 (CN) yang menghasilkan limbah B3.

“Dan untuk sistem pengawasan dari kami (DLH) terkait sisa usaha dan/atau kegiatan dari pengolahan hasil produksi tambang emas (limbah B3) itu selalu dikontrol kadar ambang batas racun yang ada di tanah udara maupun air oleh kami per semester (6 bulan) berdasarkan aturan yang berlaku,” kata Tawil.

Diakunya juga, bawah beberapa tahun sebelumnya pengelolaan limbah B3 (L B3) belum memenuhi standar yang ada, namun kurang lebih dua tahun terakhir ini segala prosedur seperti pengelolaan limbah sampai penampungan B3 sudah memenuhi standar.

“Saat ini KUD Nomontang sedang melengkapi kekurangan yang ada termasuk ijin penampungan B3 maupun pengelolaan limbah B3, sehingga saya juga sangat mengapresiasi langkah dari pihak ketua KUD untuk mau memenuhi kekurangan yang ada untuk melengkapinya agar dikemudian hari tidak menjadi persoalan yang berdampak hukum,” akunya.

Disinggung apakah KUD Nomontang sudah ada ijin untuk penampungan limbah sisa oli bekas yang termasuk L B3, Kadis pun menjawab bahwa untuk saat ini mereka (KUD) belum kantongi ijin tersebut, namun Ketua KUD beberapa waktu lalu sudah mengajukan permohonan pengajuan ijin penampungan oli bekas tersebut, dan saat ini sedang berproses, tandasnya.

(Hendri)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular

To Top