Opini

Pemimpin Kolaboratif Adalah Kebutuhan Sulut Untuk Berbenah

“Pemimpin Kolaboratif Adalah Kebutuhan Sulut Untuk Berbenah”

Penulis : Gun Lapadengan,SH
Pegiat demokrasi Bolaang Mongindow Raya.

MONGONDOW.CO, Boltim – Gemuruh dan hiruk pikuk melanda daerah Nyiur Melambay. apa pasal? tidak lain dan tidak bukan karena suksesi kepemimpinan Sulawesi Utara melalui Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2020. Kontestasi Demokrasi untuk memilih calon pemimpin masa depan bukanlah hal sederhana, tetapi perlu dimaknai sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diamanatkan oleh Konstitusi yang telah dijabarkan melalui Undang-Undang nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota. Selanjutnya PKPU nomor 1 Tahun 2020. Semua dibuat oleh pemerintah untuk memagari sebuah proses agar berjalan sebagaimana yang diharapkan dalam peraturan tersebut diatas, dan diharapkan agar tidak diselewengkan oleh para penyelenggara disemua tingkatan.

Kontestasi Pilkada Gubernur khususnya di Sulut pada Tahun 2020 ini sangatlah unik dan menarik perhatian kita semua. Apa yang unik dan menariknya? Unik karena kali pertama Pemilihan Gubernur secara langsung oleh rakyat kontestannya adalah Gubernur dan Wakil Gubernur petahana dan pesaingnya adalah para Bupati yang sedang berkuasa di daerahnya.

Hal ini menarik perhatian penulis dimana Gubernur dan Wakil Gubernur (ODSK) sebagai incumbent bersaing dengan para Bupatinya yang juga sedang berkuasa masing-masing Bupati Minahasa Utara (Minut) Vonny A. Panambunan, Bupati Minahasa Selatan (Minsel) Christiany E. Paruntu dan Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Salim Lanjar. Menarik kita ikuti bagaimana kemampuan mereka merebut hati rakyat untuk berpihak dan memilih mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara periode 2021-2026.

Perlu diingat bahwa dalam politik moderen hal yang diukur dan menentukan keberhasilan/kemenangan dalam kontestasi pilkada adalah :

1. Kekuatan figur bakal calon yang kuat yakni memiliki trackrecord yang jelas dan cenderung positif di masyarakat. Kekuatan figur yang menjadi tokoh sentral sangat menentukan karena Rakyat butuh Pemimpin yang kuat dan cerdas serta egaliter;

2. Dukungan partai politik syarat mutlak menuju kemenangan. Bagaimana mungkin kita bicara menang kalau tidak diusung oleh partai sebagai kendaraan politiknya mengikuti kontestasi. Mesin Partai yang maksimal menggerakkan akar rumput sebagai pendukung menuju kemenangan adalah kunci.

3. Dukungan rakyat yang rill untuk perubahan karena rakyatlah menilai dan yang merasakan selama kepemimpinan berjalan baik atau tidak.

Apakah perlu dilanjutkan karena ada incumbent yang maju kembali sebagai salah satu calon? Rakyat sudah cerdas menilai selama kepemimpinan apakah pro terhadap kepentingan rakyat atau tidak?

Dalam pandangan penulis dan melalui pengamatan sejak ODSK berkuasa masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki terutama pada sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang stagnan selama ini. Kesenjangan sosial sangat terasa di daerah terutama di Bolaang Mongondow Raya (BMR).

BMR dalam amatan penulis di anak tirikan dalam penentuan anggaran APBD Provinsi dari Tahun ke Tahun padahal hampir 52% wilayah Sulut adalah Bolaang Mongondow Raya. BMR pula penyuplai terbesar pada kebutuhan pokok masyarakat Sulawesi Utara, logikanya dan seharusnya pendistribusian anggaran harus mendapatkan porsi yang lebih besar. Tapi itu tidak terjadi karena prioritas hanya Manado sampai Kema.

Untuk mewujudkan rasa keadilan dan pemerataan pembangunan di Sulut pilihannya adalah mengganti pemimpin secara konstitusional melalui pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2020 ini.

Pemimpin kolaboratif sudah saatnya dimiliki oleh Sulawesi Utara. Untuk mewujudkan kepemimpinan yang kolaboratif maka pilihannya adalah pasangan CEP-SSL. Mereka sudah teruji dua periode memimpin dan memajukan daerahnya dengan segudang prestasi di level Regional maupun Nasional. Kerinduan masyarakat Sulawesi Utara pada pemimpin yang mewarnai kemajemukan ada pada sosok Calon Gubernur Cristiany Eugenia Paruntu dan Wakil Gubernur Sehan Salim Landjar (CEP-SSL).

Jika ada yang berpandangan lain itu hak bagi setiap warga negara dan dijamin oleh konstitusi. Pilihan kepada pemimpin kolaboratif adalah kebutuhan dan sudah saatnya kita Sulawesi Utara untuk berbenah. Pemimpin kolaboratif adalah harga hidup bagi rakyat Sulawesi Utara, kapan lagi kalau bukan sekarang? Siapa lagi kalau bukan kita?

“Torang Samua Basudara,” harus kolaborasi, dan itu hanya ada pada CEP dan SSL sebagai Simbol Toleransi bukan hanya di teks slogan tapi diwujudkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara. Buatlah sejarah wahai rakyat Sulawesi Utara. Memilih CEP-Sehan adalah sejarah bagimu, dan sejarah tidak akan terlupakan sampai kapanpun.

Kolaborasi kepemimpinan Sulut digantungkan oleh rakyat kepada CEP dan Sehan sebagai tonggak sejarah kebangkitan Sulut sebagai daerah penuh toleran bukan dalam slogan tetapi di wujudkan dalam bentuk kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara.

SULUT BANGKIT adalah SULUT KOLABORATIF

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular

To Top