Era kecerdasan buatan (AI) kini memasuki fase baru. Setelah perkembangan pesat model bahasa yang mampu menghasilkan teks dan gambar, teknologi ini mengambil dua langkah tegas ke dunia nyata. Di satu sisi, AI menjadi asisten informasi yang andal dan mampu menyediakan data terverifikasi. Di sisi lain, AI mendapatkan wujud fisik dalam bentuk robot humanoid yang siap mengambil alih tugas-tugas manusia. Meskipun tampak berbeda, kedua arah ini adalah bagian dari satu tren tunggal yang akan selamanya mengubah cara kita bekerja, mendapatkan informasi, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.

Garda Informasi: AI sebagai Sumber Pengetahuan Tepercaya

Saat dunia berjuang melawan “halusinasi” dan disinformasi yang dihasilkan oleh jaringan neural, sebuah perusahaan rintisan (startup) asal Korea Selatan, Ask-Me, memilih untuk bertaruh pada keandalan. Perusahaan ini meluncurkan layanan chat AI berbayar dengan nama yang sama, di mana fitur utamanya adalah kewajiban untuk menyertakan sumber pada setiap jawaban yang diberikan. Berbeda dari para pesaingnya, Ask-Me tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga menganalisis kumpulan data masif dari artikel berita, karya ilmiah, dan laporan, lalu memberikan tautan ke sumber aslinya kepada pengguna.

Pendekatan ini memecahkan masalah utama model bahasa modern—kecenderungan mereka untuk mengarang fakta. Pengguna Ask-Me tidak hanya mendapatkan jawaban yang komprehensif, tetapi juga dapat secara mandiri memverifikasi kebenarannya dengan mengklik tautan yang tersedia. Layanan ini telah berhasil melewati tahap uji coba beta, di mana 95% peserta menyatakan puas dengan kualitas dan keandalan jawabannya. Peluncuran langganan berbayar (seharga 9.900 won atau sekitar 7 dolar AS per bulan) menandai langkah penting menuju komersialisasi AI yang dapat dipercaya untuk kegiatan profesional dan pendidikan.

Garda Fisik: Perlombaan Menciptakan “AI dalam Raga”

Sejalan dengan pengembangan asisten intelektual, berlangsung pula perlombaan yang jauh lebih ambisius—penciptaan robot humanoid serbaguna. Raksasa teknologi dan startup terkemuka dunia seperti Tesla, Figure AI (bekerja sama dengan OpenAI), dan Sanctuary AI, menginvestasikan miliaran dolar untuk mengembangkan mesin yang mampu melakukan tugas-tugas fisik layaknya manusia.

  • Tesla secara aktif menyempurnakan robotnya, Optimus, dan melatihnya untuk melakukan tugas-tugas kompleks di lini produksi, seperti memindahkan sel baterai dengan hati-hati.

  • Figure AI mendemonstrasikan bagaimana robot Figure 01, yang ditenagai oleh model OpenAI, mampu melakukan dialog yang bermakna dengan manusia, memahami perintah, dan melakukan tindakan seperti menyerahkan benda dan membersihkan sampah.

  • Sanctuary AI memamerkan robotnya, Phoenix, yang berhasil menangani tugas-tugas di sektor ritel—mulai dari mengemas produk hingga menempelkan label.

Kemajuan di bidang ini sangat mencengangkan. Hanya dalam setahun, robot humanoid telah berevolusi dari langkah yang goyah menjadi tindakan yang penuh makna. “Otak” mereka adalah model AI canggih yang sama seperti yang digunakan oleh chatbot, namun telah diadaptasi untuk berinteraksi dengan dunia fisik.

Era Baru Interaksi: Dari Informasi ke Aksi

Peluncuran layanan seperti Ask-Me dan perkembangan pesat robot humanoid adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar alat untuk memproses informasi, tetapi menjadi partisipan penuh dalam kehidupan kita. Jika chatbot yang cerdas dan andal akan mengubah kerja intelektual, maka robot humanoid akan merevolusi kerja fisik, mulai dari manufaktur dan logistik hingga layanan rumah tangga.

Kita berada di ambang masa depan di mana kecerdasan buatan akan menjadi konsultan tepercaya yang menyediakan informasi terverifikasi, sekaligus menjadi asisten fisik yang melakukan tugas-tugas rutin dan berbahaya. Sinergi dari kedua arah ini menjanjikan penciptaan ekonomi jenis baru dan akan menentukan wajah peradaban manusia untuk dekade-dekade mendatang.