Dunia pendidikan tinggi, baik di tingkat nasional maupun global, tengah menghadapi gelombang perubahan besar. Di Bogor, wacana restrukturisasi akademik memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi senior, sementara di kancah global, kekhawatiran mengenai relevansi pendidikan di era kecerdasan buatan (AI) semakin mendesak untuk dijawab. Kedua fenomena ini bermuara pada satu pertanyaan besar: bagaimana institusi pendidikan harus berevolusi menghadapi masa depan?
Ketegangan di Kampus Pertanian
Rencana transformasi Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University menjadi sekolah teknik kini tengah memantik polemik serius. Langkah strategis ini mendapat sorotan tajam dari sejumlah tokoh penting yang memiliki ikatan sejarah kuat dengan fakultas tersebut.
Dalam sebuah forum akademik di IPB International Convention Centre, Bogor, Senin (9/6/2025), Prof. Aman Wirakartakusumah menyuarakan kekhawatirannya. Mantan Rektor IPB periode 1998-2002 ini menegaskan bahwa Fateta bukan sekadar fakultas teknik biasa. Menurutnya, fakultas ini adalah pusat keilmuan multidisiplin yang menyentuh nadi sistem pangan nasional, dari hulu hingga hilir.
“Sektor pertanian memerlukan teknologi yang kuat. Fateta adalah hibrida dari ilmu teknik, ilmu alam, dan manajemen. Peranannya sangat vital untuk isu pangan, gizi, energi, dan lingkungan menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Aman. Ia menilai ada risiko ketidakselarasan epistemologi—atau ketidaknyambungan dasar keilmuan—jika IPB memaksakan perubahan domain teknik tanpa mempertimbangkan konteks teknologi pertanian yang sudah mapan. Baginya, IPB boleh saja mengembangkan keilmuan baru, namun jangan sampai membalikkan logika hingga mengaburkan “rumah” asli dari keilmuan tersebut.
Mempertahankan Ruh Kolaborasi
Nada keprihatinan serupa datang dari Prof. Florentinus Gregorius Winarno, pendiri sekaligus mantan dekan Fateta. Sosok yang pernah menjabat sebagai Presiden Codex Alimentarius Commission ini mengingatkan bahwa Fateta dibangun dengan visi mencetak pemimpin pertanian global, bukan sekadar insinyur teknis.
“Saya membangun dosen-dosen berkelas dunia. Kita dulu bahkan mendirikan 17 STM Pembangunan Pertanian yang kini menjadi SMK. Sayangnya, ruh kolaborasi itu kini memudar,” ungkap Winarno dengan nada kecewa. Ia menekankan bahwa Fateta adalah almamater tempat banyak insan dididik, sebuah entitas sejarah yang tidak semestinya diubah strukturnya tanpa pertimbangan matang terhadap nilai dasarnya.
Merespons gelombang kritik ini, Dekan Fateta IPB, Prof. Slamet Budijanto, berusaha meredam situasi. Di lokasi yang sama, ia menjamin bahwa substansi keilmuan justru akan diperkuat lewat transformasi ini. “Saya pastikan ilmunya justru diperkuat, bukan diperlemah. Tapi kalau mau memastikan bahwa Fateta itu tetap ada, sekarang rumahnya masih ada,” tegas Slamet, mengisyaratkan bahwa perubahan ini adalah bagian dari strategi penguatan identitas keilmuan IPB.
Kegelisahan Global: Relevansi Pendidikan di Era AI
Perdebatan di Bogor mengenai struktur fakultas hanyalah satu sisi mata uang. Di sisi lain, para orang tua di seluruh dunia juga sedang bergulat dengan ketidakpastian mengenai masa depan pendidikan anak-anak mereka, terutama di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan.
Craig Mundie, mantan eksekutif Microsoft yang menghabiskan 22 tahun mengarahkan visi perusahaan terhadap AI, seringkali mendengar pertanyaan cemas dari para orang tua: “Anak saya harus kuliah jurusan apa agar tidak kehilangan pekerjaan akibat AI?”
Mundie menilai itu adalah pertanyaan yang salah kaprah. Masalahnya bukan sekadar memilih jurusan yang “tahan banting” dalam lima tahun ke depan, melainkan bagaimana sistem pendidikan itu sendiri harus berubah total. Menurut Mundie, kita tidak bisa lagi sekadar mengejar pekerjaan yang tepat.
Mendefinisikan Ulang Nilai Manusia
Dalam sebuah wawancara bulan Juni lalu, Mundie menjelaskan bahwa AI dan robotika siap merombak tatanan kerja jauh lebih dalam daripada teknologi-teknologi sebelumnya. Alih-alih fokus pada satu set keterampilan kerja, keluarga harus mempersiapkan anak-anak untuk dunia di mana proses belajar menjadi aktivitas yang berkelanjutan, dipersonalisasi, dan dilakukan dalam kemitraan dengan mesin cerdas.
Pergeseran ini memaksa masyarakat global untuk merenungkan kembali definisi nilai manusia. Selama sebagian besar sejarah peradaban, martabat manusia seringkali dikaitkan erat dengan pekerjaan karena manusia harus bekerja untuk bertahan hidup. Namun, ketika AI mulai mengotomatisasi tugas-tugas fisik maupun intelektual, kaitan tersebut bisa jadi akan melonggar.
Lewat bukunya yang berjudul “Genesis”, yang ditulis bersama Eric Schmidt dan Henry Kissinger, Mundie mengajak kita berpikir berbeda tentang bagaimana kita menghargai diri sendiri. Tantangan terbesar ke depan, baik bagi institusi lokal seperti IPB maupun sistem pendidikan global, adalah menciptakan model pembelajaran yang tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga mampu menjaga martabat dan peran manusia di tengah dominasi teknologi.