Harga emas batangan kembali tergelincir untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Rabu. Aksi jual ini dipicu oleh memanasnya kembali tensi antara AS dan Iran, yang sukses meredam harapan pasar akan resolusi konflik dalam waktu dekat. Di pasar spot, harga emas susut 0,3% ke level $4.494,16 per ons, sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga turun 0,2% menjadi $4.492,50. Pemicu utamanya adalah klaim Iran di hari Selasa bahwa AS telah melanggar gencatan senjata lewat serangan di dekat wilayah konflik Selat Hormuz. Kondisi ini jelas bikin upaya mengakhiri perang jadi makin rumit dan menjaga kekhawatiran inflasi tetap menyala di benak investor.

Konflik geopolitik ini nyatanya bikin prospek suku bunga The Fed makin abu-abu. Lukman Otunuga, analis riset senior dari FXTM, menyoroti bahwa harga emas sekarang sedang menguji level support di $4.450 karena pudarnya ekspektasi kesepakatan damai. Ekspektasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga akibat tekanan harga imbas konflik jelas bikin emas makin merana. Tekanan inflasi yang naik ini memperkuat spekulasi higher for longer (suku bunga tinggi dalam waktu lama), yang jelas mengekspos emas pada risiko penurunan yang lebih dalam.

Sentimen di atas diperkuat oleh pernyataan Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari. Dia menegaskan bank sentral harus fokus menjaga risiko inflasi yang mulai menumpuk, meski menurutnya masih terlalu dini untuk menebak kapan suku bunga bakal benar-benar diubah. Pelaku pasar sendiri sudah mulai pasang kuda-kuda—data FedWatch CME Group menunjukkan ada probabilitas sebesar 37% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin di bulan Desember nanti. Karena emas adalah aset tanpa imbal hasil (non-yielding), tren suku bunga tinggi biasanya akan membebani harganya, walau secara tradisional aset ini sering jadi tameng lindung nilai terhadap inflasi. Semua mata sekarang tertuju pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS bulan April di hari Kamis, serta komentar dari petinggi The Fed lainnya seperti Philip Jefferson dan Lisa Cook untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Di tengah sentimen makro yang simpang siur ini, adu jotos justru sedang terjadi di bursa opsi. Para trader saling sikut untuk mengakali tren bearish yang sudah menghantui komoditas ini selama beberapa bulan terakhir. Hari Selasa kemarin, volume opsi di SPDR Gold ETF (GLD) dan VanEck Gold Miners ETF (GDX) sangat condong ke arah bullish. Menariknya, GDX malah terbang lebih dari 4% di saat harga kontrak emas berjangka justru loyo. Arus bullish di GDX ini kencang sekali, di mana volume call options (opsi beli) sempat meninggalkan put options (opsi jual) dengan rasio 5 banding 1. Berdasarkan data ThinkOrSwim, ada lebih dari 10.000 kontrak call yang ditransaksikan di harga penawaran (ask) atau lebih tinggi—indikasi kuat kalau kontrak ini diborong habis. Kontrak yang paling laris manis adalah strike 100 dan 110 yang jatuh tempo 18 Juni. Untuk bisa balik modal, pembeli opsi ini butuh reli dua digit yang gila-gilaan dari posisi sekarang.

Tapi tentu saja, selalu ada paus besar yang nekat melawan arus. Di pasar GDX yang sama, seorang trader kakap menggelontorkan duit lebih dari $1 juta—jumlah yang bahkan lebih besar dari gabungan premi kontrak call 100 dan 110 tadi—hanya untuk memborong ribuan put options dengan strike 85 yang kedaluwarsa 17 Juli.

Tarik ulur posisi ini benar-benar menjadi cerminan fase make-or-break buat emas. Geopolitik yang susah ditebak dan arah suku bunga yang masih kabur bikin pelaku pasar terbelah. Kalau ditarik mundur, harga emas memang sudah anjlok sekitar 20% dari rekor tertingginya di bulan Januari, walau secara akumulasi dua tahunan masih mencetak cuan 89%. Saham emiten tambang emas malah lebih gila lagi, meroket 144% di periode yang sama.

Bagi yang mencari petunjuk tambahan, aktivitas opsi di saham Newmont Mining bisa jadi sinyal. Transaksinya pada hari Selasa nyaris menyentuh 100.000 kontrak dengan premi opsi menembus angka $500 juta. Mayoritas arah pergerakannya sangat bearish, ditandai dengan jutaan aksi jual call, termasuk salah satu transaksi jumbo senilai $22 juta untuk deep in-the-money call. Gerakan seperti ini biasanya jadi sinyal kuat ada pihak besar yang sedang buang barang atau cabut dari posisi sahamnya.